Blogger Widgets TENTANG MANAJEMEN

Sunday, December 15, 2013

Fungsi dan Jenis-jenis pedagang eceran



Menurut pakar ahli, penjualan eceran meliputi semua kegiatan yang berhubungan langsung dengan penjualan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi dan bukan untuk bisnis. Pelayanan kepada konsumen harus diutamakan karena merupakan tanggung jawab primer sebagai pedagang eceran. Sedangkan pelayanan pedagang besar atau produsen merupakan tanggung jawab sekunder.
Mengenai fungsi dari penjualan eceran ini, beberapa ahli memiliki pendapat berbeda. Menurut Davidson, Sweeney dan Stampte ( Bob Fuster, 2008 ) fungsi pedagang eceran sebagai berikut
·         Menciptakan tersedianya pilihan barang atau jasa sesuai dengan yang diinginkan konsumen;
·         Memberikan penawaran produk atau jasa pelayanan dalam unit yang cukup kecil, sehingga memungkinkan para konsumen untuk memenuhi hebutuhannya;
·         Menyediakan pertukaran nilai tambah dari produk; dan
·         Mengadakan transaksi dengan para konsumennya.
Berbeda dari ketga ahli diatas, fungsi pedagang eceran menurut Stanton adalah mengumpulkan atau mengkosentrasikan aneka ragam produk dari berbagai produsen. Jika dirinci lagi, maka pendapat Stanson tersebut mengandung tiga fungsi penting seorang pedagang eceran, yakni :
1.      Konsetrasi barang. Artinya, pedagang eceran mengelompokkan produk-produk tersebut dalam jumlah yang sesuai dengan keinginan konsumen.
2.      Penyamaan barang. Artinya, pedagang eceran harus memilah-milah produk dari produsen tersebut menjadi satuan barang yang sama yang dibutuhkan konsumennya.
3.      Penyebaran barang. Ini adalah fungsi terpenting seorang pedagang eceran, yaitu menyebarkan kelompok barang tersebut kepada konsumen akhir atau pembeli pribadi. Itulah beberapa pendapat fungsi penjual atau pedagang eceran.
Menyimpang dari pembahasan tentang fungsi pedagang eceran di atas, Kotler (bob  Foster, 2008) membagi tipe-tipe pedagang eceren menjadi tiga kelompok besar, yakni store retailer, nonstore retailer, dan retailer organization.
Store retailer (pedagang eceran bertoko) di bagi lagi menjadi 8 kategori, yakni :
1.      Toko khusus, adalah toko yang mempunyai lini produk terbatas. Misal, toko olah raga, toko furniture, toko pakaian, dan lain-lain.
2.      Toko serba ada (department store), adalah toko yang memiliki beberapa lini produk, khususnya pakaian, alat-alat rumah tangga, dan perlengkapan rumah. Bisasanya, setiap lini produk tersebut ditempatkan di lokasi berbeda sesuai dengan lini produknya.
3.      Pasar swalayan, adalah toko yang cukup besar. Toko ini menyediakan makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, barang-barang kosmetik, hingga obat-obatan.
4.      Toko super, toko kombinasi, dan toko hiper. Toko super adalah toko yang lebih besar dari swalayan konvensional dengan ruang jual seluas 35.000 kaki persegi. Toko gabungan merupakan diversifikasi dari pasar swalayan yang memasukkan produk obat-obatan dengan resep.
5.      Toko kebutuhan sehari-hari, adalah toko kecil di dekat pemukiman warga.
6.      Toko pemberi potongan harga, adalah toko yang menjual barang-barang standar dengan harga lebih rendah dari pada pedagang lainnya.
7.      Toko gudang, adalah toko tanpa embel-embel diskon
8.      Ruang pamer catalog (catalog showroom).
Nonstore retailer (pedagang eceran toko), dibagi menjadi empat kategori, yaitu :
·         Pemasaran langsung, yaitu suatu system pemasaran yang menggunakan suatu metode iklan. Pemasaran ini terdiri dari personal selling, telemarketing, direct mail marketing, catalog marketing, kios marketing, dan online marketing.
·         Penjualan otomatis (mesin penjaja otomatis), adalah suatu jenis pedagang eceran tanpa toko, menggunakan mesin yang dioperasikan dengan koin dalam melayani pembeli, dimana mesin tersebut beroperasi secara otomatis.
·         Pelayanan pembelian, yaitu suatu bentuk pedagang eceran yang bertindak sebagai agen pembeli.

Pengertian Bisnis Ritel



Ritel merupakan merupakan salah satu rantai saluran distribusi yang memegang peranan yang penting dalam penyampaian barang dan jasa kepada konsumen akhir.Ritel meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis.
Kotler ( 2003: 535 ) dalam buku Foster (2008:34) mendefinisikan sebagai berikut: “ritel meliputi semua kegiatan yang meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis ”.
Sedangkan menurut Berman dan Ervans(2002 : 3) dalam buku Foster (2008:34) pengertian ritel adalah: “ritel adalah tingkat terakhir dari proses distribusi, di dalamnya terdapat aktivitas bisnis dalam penjualan barang atau jasa kepada konsumen  ”.
Dari berbagai pengertian diatas dapat dirumuskan bahwa ritel adalah segala aktivitas perdagangan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk digunakan sendiri, bukan untuk diperdagangkan lagi.

Pengertian Koperasi Bisnis Ritel



Koperasi Bisnis ritel Merupakan kesatuan ekonomi terkecil dari kerangka pembangunan dan pengembangan bisnis ritel “ penjualan eceran” baik berupa barang atau jasa dari suatu perusahaan di jual secara eceran. Yang biasanya dilakukan di kios-kios, toko, atau depot/warung. Untuk membangun perkembangan bisnis ritel ini peran koperasi sangat berarti, tidak hanya sekedar dalam pemberian biaya (modal) kepada anggota Koperasi Bisnis Ritel, peran koperasi disini juga dapat menyamakan harga barang kepada para pengecer dan penyediaan  langsung barang kepada pengecer sehingga pengecer tidak perlu lagi membeli barang kebutuhannya, sebab koperasi berusaha penuh untuk menanggulangi segala keperluan pedagang hingga sampai ketempat sehingga lebih efektif dan efesien.

Monday, December 9, 2013

METODOLOGI ILMU EKONOMI

A. TEORI  EKONOMI

         Teori ekonomi adalah pernyataan atau sekumpulan pernyataan yang menggambarkan sifat-sifat hubungan ( sebab-akibat ) yang terjadi di dalam perekonomian, dan memprediksi setiap peristiwa jika suatu variabel ekonomi yang mempengaruhinya berubah.
          Suatu teori berusaha menjawab penjelasan sehingga memungkinkan kita melakuakan prediksi terhadap peristiwa-peristiwa yang belum atau sedang di observasi. Teori harus sesuai dengan data yang sebenarnya, dan jika bertentangan, maka teori harus diubah dan diganti dengan yang lebih sahih. Mamfaat dan kesahihan sebuah teori diukur dari kemampuan dan keakuratannya dalam menjelaskan dan memprediksi peristiwa yang diteliti.

B. ASUMSI-ASUMSI

Ekonom membuat asumsi untuk alasan yang sama, yaitu membuat dunia lebih mudah dimengerti. Tentang perilaku manusia, ekonom membuat asumsi tertentu dalam meneliti perilaku rumah tangga dan perusahaan. Rumah tangga diasumsikan selalu bersikap rasional dalam mewujudkan semua keinginan mereka. Dalam kaitan ini, asumsi yang diperlukan adalah rumah tangga senantiasa berusaha memaksimumkan kepuasan dari barang atau jasa yang mereka konsumsi, atau dalam istilah ekonomi disebut utility maximization assumption. Demikian pula dalam bentuk asumsi perusahaan senantiasa berusaha memaksimumkan laba yang mereka inginkan. Dalam istilah ekonominya ini memungkinkan para ekonomi dapat membuat prediksi tentang prilaku rumah tangga dan perusahaan.
Selain asumsi rasionalitas, ekonom juga sering menggunakan asumsi ceteris paribus dalam meneliti perilaku dua atau lebih variabel yang sering berhubungan. Sebutan lain untuk asumsi ini adalah hal-hal lain dianggap sama yang secara luas luas dipakai dalam analisis ekonomi. Yang dimaksud oleh asumsi ini adalah apabila kita meneliti dua variabel atau lebih salaing berhubungan, atau seling mempengaruhi, maka kita harus membuat pemisah hubungan atara variabel-variabelnya.



Tuesday, December 3, 2013

TANGGAPAN KEPUTUSAN

Berdasarkan kemampuan organisasi dalam mengadakan rencana atas proses pengambilan keputusan. Pada umumnya keputusan dapat digolongkan menjadi: keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram
  1. Keputusan terprogram
Yaitu keputusan yang dapat dispesifikasikan sebelumnya sebagai seperangkat norma atau prosedur keputusan. Keputusan terprogram dianggap dapat ditangani oleh sebuah program komputer karena norma untuk mencapai keputusan telah didefinisikan secara lengkap dan hanya nilai-nilai variabelnya yang harus menunggu bagi permasalah spesifik.

     2.  Keputusan tidak terprogram
Yaitu keputusan yang terjadi hanya satu kali atau berubah setiap saat diperlukan. Keputusan dalam sistem terbuka merupakan keputusan tidak terprogram karena tidak mungkin menspesifikasikan sebelumnya atas keseluruhan faktor. Keputusan tidak terprogram dapat berkisar keputusan satu kali berhubungan dengan terjadinya satu petaka yang tidak terduga sebelumnya, misalnya terjadinya sebuah perang didaerah organisasi berdomisili, sampai suatu keputusan sehubungan dengan permasalahan berulang yang sangat sering berubah sebagai norma keputusan tidak mungkin dirumuskan.
Manajer untuk pelaksanaan pengambil keputusan terprogram dapat mendelegasikan kepada bawahan. akan tetapi, pada pengambilan keputusan tidak terprogram biasanya tidak dapat didelgasikan. Salah satu strategi untuk meningkatkan jumlah keputusan terprogram adalah menspesifikasikan norma untuk seluruh kondisi normal dan membiarkan norma keputusan terprogram mengenai kasus-kasus norma tersebut.

PENGETAHUAN MENGENAI KELUARAN

        Suatu keputusan mentukan mengenai hal-hal yang akan terjadi manakala suatu arah tindakan tertentu. Dalam analisis pengambilan keputusan, biasanya dibedakan menjadi 3 kategori dasar pengetahuan yang sangat dasar pengetahuan yang sangat berhubungan dengan keluaran, yaitu sebagai berikut.
  1.  Repastian, yaitu pengetahuan yang akurat dan lengkap mengenai keluaran setiap alternatif. Biasanya untuk satu alternatif hanya terdapat satu keluaran
  2. Resiko, yaitu keluaran yang mungkin timbul dapat dilekatkan pada setiap keluaran.
  3. Ketidakpastian, yaitu beberapa keluaran mungkin timbul dan dapat diidentifikasi tetapi tidak  ada pengetahuan tingkat kemungkinan yang dapat diletakkan kepada setiap keluarannya.
 Pengambilan keputusan rasional dilakukan apabila hanya kemungkinan berbagai keluaran saja diketahui adalah identik dengan kepastian. Akan tetapi dalam hal ini bukan memaksimumkan keluaran yang diterapkan. sebagai contoh, apabila manajer dihadapkan pada 3 pilihan alternatif, yang satu memberikan kemungkinan 15% keuntungan dari Rp.100.000.000 yang kedua 25% dari kemungkinan keuntungan 75.000.000 dan yang lainnya 40% dan kemungkinan keuntungan 50.000.000 maka manajer sebagai pengambilan keputusan yang rasional akan memilih yang ketiga karena memiliki nilai yang diharapkan lebih tinggi, yaitu kemungkinan X keluaran nilai yang diharapkan.

KERANGKA KERJA DAN KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

           Pada suatu sistem keorganisasian, terdapat beberapa klasifikasi pengambilan keputusan. Pemahaman terhadap kerangka kerja atau konsep pengambilan keputusan akan memberikan nilai dalam pembahasan yang lebih dalam. Menurut Davis (1974) kerangka kerja untuk pengambilan keputusan tersebut meliputu hal-hal sebagai berikut.
  1. Sistem Pengambilan Keputusan                                                                                                           Sistem pengambilan keputusan adalah suatu cara atau prosedur tertentu, ketika suatu keputusan diambil oleh pembuatnya (biasanya manajer). Sistem pengambilan keputusan tersebut dapat dilakukan secara terbuka dan secara tertutup.
           Pertama sistem keputusan terbuka memandang suatu keputusan berada dalam suatu lingkungan yang kompleks dan sebagian tidak diketahui. Keputusan lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan pada suatu saat terjadi sebaliknya dan pada suatu saat terjadi sebaliknya bahwa lingkungan lebih banyak dipengaruhi oleh keputusan. Manager dalam mengambil keputusan tidak selamanya harus logis dan sepenuhnya rasional, tetapi hanya dituntut untuk menunjukkan rasionalitas dalam batas yang dikemukakan oleh latar belakang pandangan atas alternatif, kemampuan menangani suatu model keputusan, dan sebagainya.
Manajer sebagai pengambil keputusan terbuka memiliki asumsi dasar, yaitu :
  • tidak mengetahui seluruh alternatif dan kekurangannya;
  • melakukan pencarian secara terbatas untuk menentukan beberapa alternatif
  • mengambil keputusan yang memuaskan tingkat aspirasinya.
         Kedua, sistem tertutup menganggap bahwa keputusan dipisah dan masukan yang tidak diketahui dan lingkungan. Pada sistem keputusan tertutup, manajer sebagai pengambil keputusan diasumsikan;
  • mengetahui seluruh perangkat alternatif dan keluarannya;
  • memiliki metode yang memungkinkan baginya untuk menentukan kronologi kepentingan seluruh alternatif sesuai urgensinya;
  • menentukan alternatif yang di pandang paling menguntungkan.